15 tahun yang lalu aku adalah gadis kecil yang tinggal di sebuah kampung di Kabupaten Boyolali. Tubuh kurus kering, kulit hitam, rambut kemerahan, dan bau khas matahari. Kehidupan sangat sederhana sudah biasa aku jalani sejak kecil. Aku tak akrab dengan play station, nitendo, handphone, komputer, apalagi internet. Namun aku akrab dengan daun melinjo, bunga sepatu, dan buah asam yang tumbuh di pemakaman. Pemikiran anak-anak kampung seperti kami saat itu bagaimana menciptakan permainan mengasyikan dari bahan-bahan yang mudah ditemukan disekitar.

Satu hal yang aku sukai sejak kecil, berimajinasi. Mungkin karena hampir tiap hari mengkonsumsi tayangan TV. Hampir setiap hari aku dolan ke rumah tetangga untuk menumpang nonton TV. Aku masih hafal jadwal tayangan TV yang suka aku tonton.

Sinetron Tersanjung setiap hari Jumat, Tersayang setiap hari Rabu, Serial Horor Susana setiap siang, Film Vampir China yang diputar setiap sabtu jam 11 siang, hingga film-film Bolywood yang ditayangkan setiap Sabtu malam.

Tayangan-tayangan TV tersebut sumber inspirasiku. Aku sangat suka menciptakan jalan cerita dalam pikiranku sendiri. Saat bermain ‘pasaran’ bersama teman-teman aku sering menjadi pembuat skenario lakon yang akan kami mainkan. Rata-rata memang jalan cerita yang aku ciptakan kisah percintaan. Maklumlah tontonan aku kala itu tidak sehat, hihihi. Ibarat teko hanya mengeluarkan apa yang ada didalamnya. Jika kisah yang masuk dikepalaku hanya cerita picisan, maka ide-ide yang meletup tidak jauh dari sana.

***

Menurutku pelabuhan pertama menuju samudra pengetahuan yang luas adalah membaca. Dari membaca, isi kepala menjadi lebih kaya. Orang yang memiliki isi kepala kaya tentu akan lebih bijak menghadapi permasalahan hidup. Tak seperti katak dalam tempurung yang selalu menilai tempurungnya paling indah sedunia.

Kelas 1 SD aku bisa membaca suku kata. Namun belum bisa membaca huruf mati. Itupun sudah lumayan. Tak seperti anak TK zaman sekarang yang sudah bisa membaca lancar.

Suatu hari aku memiliki kapur. Aku lupa tepatnya bisa mendapatkan kapur dari mana. Aku menggoreskan kapur itu di lantai dan tembok. Aku Menuliskan suku kata yang bisa aku baca. Kemudian menghapusnya dengan tangan untuk menulis suku kata baru. Begitu seterusnya. Entah mengapa aku sangat senang bermain dengan kapur tersebut. Mungkin karena akhirnya aku bisa memiliki kapur panjang setelah sekian lama hanya mendapatkan kapur mungil yang hampir habis.

Selepas maghrib ibu pulang dari bepergian. Aku langsung menghampiri ibu dengan semangat 45 untuk memamerkan kapur yang aku pegang. “Ibu aku bisa nulis. Ini bacanya ati.” Kataku girang seraya menunjukan kemampuanku di ubin kamar kami.

“Atik? Kalau mau nulis atik tinggal ditambah K belakangnya,” kata ibu sambil makan.

Kisah bersama sebuah kapur inilah awal cerita aku bisa membaca lancar dengan huruf mati. Kesenanganku selanjutnya berkembang. Tidak hanya senang berimajinasi, aku juga sangat suka membaca. Bacaan yang ada jalan ceritanya sangat sukai.

Sayangnya untuk keluarga sangat sederhana seperti kami, buku termasuk barang mewah. Jangankan membeli buku bacaan, buku pelajaran yang tidak dipinjamkan disekolah saja aku meminjam kakak kelas. Kalaupun bukunya yang dipakai berbeda dengan milik kakak kelas, setidaknya foto kopi dapat menjadi opsi penghematan bagi keluarga kami.

Sumber bacaan gratis kala itu buku paket Bahasa Indonesia yang dipinjamkan sekolah. Baru sepekan dipinjamkan, aku hampir melahap habis teks cerpen, dongeng, maupun drama. Tak jarang aku sengaja mengeman-eman bacaan tersebut. Aku tidak langsung membacanya sampai habis. “Biar besok masih ada bahan bacaan,” kataku dalam hati.

Aku juga sering meminjam buku paket Bahasa Indonesia milik kakak kelas untuk mencari teks cerpen dan kawan-kawannya. Hasrat membaca cerita kala itu begitu menggelegak.

Sumber bacaan gratis kedua yaitu buku-buku bacaan di perpustakaan. Sebuah perpustakaan yang jauh dari kata ideal. Ruangan perpustakaan menyatu dengan ruang UKS. Buku-buku harus berbagi tempat dengan barang-barang untuk pelajaran olahraga seperti lembing, bola baja untuk lempar peluru, dan lain-lain. Prosedur peminjaman tidak jelas dan koleksi buku bacaan sudah sangat lawas.

Saat aku kelas 2 SD, sebuah kabar gembira terjadi. Lemari yang kuncinya dipegang seorang guru entah bagaimana ceritanya terbuka. Lemari tersebut berisi buku-buku koleksi baru. Kami pengunjung setia perpustakaan girang mendapati banyak buku baru dengan desain cover menarik dan kertas tipe baru.

“Loh mana buku Bawang Putih Bawang Merah?” tanya Mbak Widhi kakak kelasku.

Aku yang kala itu membawanya diam saja. Berharap tidak ketahuan bahwa buku yang tergeletak di kasur UKS telah ada dalam genggaman tanganku.

“Looooh kok kamu ambil? Ini udah aku pilih tadi.”

Aku tetap diam. Bagaimanapun juga aku tahu posisiku salah. Terlebih kala itu aku hanya anak kelas 2 SD sedangkan dia di kelas 6 SD.

“Yaudah deh ini buat kamu aja. Aku cari buku yang lain,” kata Mbak Widhi. Rasanya benar-benar lega. Seperti aku mendapatkan kado terindah.

Sepulang sekolah seperti biasa aku bermain bersama Mbak Widhi dan tetangga-tetangga yang lain. Kami bersama-sama membaca buku bagus yang kami pilih dari sekolah. Selesai membaca satu buku kami saling bertukar buku pinjaman. Sungguh kehidupan masa kecil sederhana yang membahagiakan.

***

Waktu terus bergulir. Aku masih suka membaca. Duduk di bangku SMP aku mulai ‘berani’ menulis letupan-letupan ide dalam kepalaku. Kala itu guru Bahasa Indonesiaku sering memotivasi dan memberikan tugas pada semua siswanya untuk mengarang. Aku yang memang suka berimajinasi menyambut baik tugas-tugas ini. Meskipun tulisan yang aku lahirkan masih sangat sederhana dan jauh dari kata baik.

Berganti seragam putih abu-abu, aku masih suka menulis. Lagi-lagi aku menemukan guru Bahasa Indonesia yang sering memberikan tugas mengarang. Aku mulai menulis cerpen dan dipuji Bu Endang.

“Iya bagus. Itu cerita misteri ya,” kata beliau.

Saat sedang asyiknya mengikuti organisasi ROHIS, aku menjalani semacam training kepemimpinan. Sang pembicara memutar video motivasi Danang dari IPB yang menuliskan impiannya dan kemudian satu persatu dapat mewujudkannya. Sebagai anak ABG yang masih labil aku mengikuti jejak Danang ini. Aku menuliskan beberapa impianku dalam kertas binder. Salah satu impian yang masih aku ingat ‘Aku ingin menulis dan tulisanku dibaca oleh orang banyak.

Tak berapa lama kemudian aku bisa mewujudkan impianku ini. Aku iseng mengikuti seleksi wartawan siswa Solo Pos yang diumumkan di koran. Hari terakhir aku mengantarkan contoh tulisan ke kantor Solo Pos.

Setelah menjalani serangkaian seleksi, Alhamdulillah aku berkesempatan menyumbangkan tulisanku di Solo Pos setiap edisi hari Minggu. Aku semakin percaya diri dengan tulisanku. Berbagai kompetisi aku ikuti. Meskipun kala itu belum ada satu pun karyaku yang keluar sebagai juara, hehehe.

***

Aku mulai mengenal FLP sejak masih mengenakan seragam putih abu-abu. Kala itu aku membaca profilnya di majalah Gizone yang diterbitkan Indiva. Entah mengapa aku langsung jatuh cinta.

“FLP adalah anugrah Tuhan untuk Indonesia!” Demikian testimoni Taufik Ismail, sang maestro sastrawan nusantara yang aku kenal sejak masih sangat belia. Testimoni di majalah Gizone ini semakin menguatkan keinginanku untuk mengikuti FLP jika ada kesemapatan suatu hari nanti.

Pucuk di cinta ulampun tiba. Tahun pertama kuliah, aku membaca pamflet Pelat Pulpen FLP Solo Raya. Tanpa pikir panjang aku langsung mendaftarkan diri. Meskipun kala itu kontribusi peserta Rp 100.000 cukup mahal untuk ukuran mahasiswa baru yang hanya mengandalkan jatah bulanan beasiswa bidik misi. Meskipun kala itu organisai Himpunan Mahasiswa Jurusan sedang mengadakan reorganisasi, aku izin demi mengikuti kegiatan FLP.

Selepas Pelat Pulpen, aku cukup aktif mengikuti pelatihan yang diadakan FLP setiap satu pekan. Meskipun harus menempuh perjalanan yang cukup jauh di sudut-sudut kota Solo yang baru aku ketahui. Aku juga antusias mengikuti pertemuan-pertemuan sederhana FLP Solo Raya untuk membahas karya teman-teman ataupun karyaku sendiri.

Kesibukan agenda akademis di kampus, mencari tambahan uang jajan dengan mengajar les privat, serta berbagai amanah organisasi selalu aku jadikan kambing hitam untuk terus mangkir dari menulis.

Namun semangat menulisku sebenarnya belum padam. Aku masih selalu antusias mengikuti berbagai pelatihan kepenulisan yang diadakan Unit Kegiatan Mahasiswa di kampus. Biasanya para pembicaranya juga orang-orang FLP seperti Mbak Afra dan Mbak Asri Istiqomah.

Setelah mengikuti pelatihan, biasanya aku mendapatkan suntikan semangat untuk kembali bercengkrama dengan tuts tuts keyboard laptop membebaskan imajinasiku. Sayangnya suntikan semangat itu tak bertahan lama. Begitu sampai rumah dan kesibukan datang, semangat menulis itu akan menguap layaknya embun yang bersua dengan sang fajar.

Hanya beberapa kali aku ‘terpaksa’ menulis. Tulisan-tulisan itu untuk keperluan organisasi seperti mengisi konten buletin, menulis press release, dan beberapa lain-lain. Bukannya bertambah tajam, penaku malah semakin tumpul karena jarang di asah.

***

FLP 2

Status mahasiswa semester akhir melekat pada diriku. Kesibukan organisasi sudah banyak berkurang seiring datangnya generasi baru yang lebih muda dan fresh. Beban kuliah akademis berkurang banyak. Aku hanya mengulang satu mata kuliah yang mendapatkan nilai C sembari mengerjakan tahap awal skripsi. Keinginan untuk aktif menulis kembali menggelegak. Aku memulai membuat akun blog wordpress dan bertekad untuk tidak melupakan passwordnya. Hihihi maklum blog sebelumnya lupa password dan sudah bertahun-tahun tidak di tengok.

Alhamdulillah aku mendapatkan kelonggaran rezeki dan bisa membeli Smart Phone. Meski bisa dibilang aku sedikit telat memilikinya. Aku bisa memiliki akun whatsapp dan BBM seperti teman-temanku. Dari whatsapp inilah aku kembali terhubung dengan FLP di dunia maya meskipun jarang mengikuti kegiatannya di dunia nyata. Di grub ini aku sangat jarang memberikan komentar. Seringnya hanya menyimak percakapan, membaca motivasi, atau ikut memfollow up informasi lomba dan kesempatan unjuk gigi dalam hal ajang kepenulisan lagi. Maklumlah, aku merasa bukan siapa-siapa di grub pejuang-pejuang pena di Solo Raya.

Usahaku mengasah pena mulai membuahkan hasil yang cukup membanggakan. Aku berhasil menjadi Juara I Lomba Menulis Cerpen Islami yang diadakan Netral Organizer dalam acara book fair pada tahun 2015. Kepercayaan diri terhadap tulisanku semakin tumbuh subur seiring beberapa keberhasilan kecil yang berhasil aku capai.

Kesempatan turut menulis buku juga datang. Mbak Cimut yang bekerja di penerbit Borobudur Inspira membuka lowongan sebagai penulis freelance beberapa ensiklopedia nusantara. Iseng aku ikut seleksi dan lolos menjadi penulis buku Ensiklopedia Riau Jilid I Bumi Lancang Kuning. Aku mengerjakannya dengan semangat 45. Aku bersegera ke perpustakaan kampus dan mengumpulkan reverensi sebanyak-banyaknya. Satu persatu bab aku kerjakan meskipun masih harus sering bertanya pada editor. Aku masih belum percaya diri terhadap kualitas tulisanku. Pengalaman pertama menandatangani kontrak dengan penerbit buku membuatku berhati-hati agar mendapatkan hasil terbaik.

Aku mulai menulis dari bab paling mudah. Kemudin terus beralih pada bab selanjutnya meskipun bab yang telah selesai aku tulis belum selesai dikoreksi editor. Kala itu aku memasang target untuk segera menyelesaikannya sebelum aku harus ke Jakarta untuk fokus penelitian skripsi di Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Ternyata target itu sedikit meleset. Aku harus ke Jakarta dengan membawa tanggungan revisi dari editor ditambah beberapa tulisan halaman penunjang. Aku segera menyelesaikannya sebelum kesibukan penelitian skripsi semakin padat. Selain itu aku harapanku jika cepat selesai, cepat mendapatkan honor, hehehe.

***

Proyek menulis ensiklopedia telah selesai. Aku fokus menyelesaikan skripsi sambil sesekali mengikuti kompetisi menulis. Mulai dari kompetisi tingkat lokal hingga tingkat nasional yang diadakan oleh majalah bergengsi di negeri ini. Lagi-lagi aku masih harus menelan pil pahit dengan menerima kegagalan sebagai juara.

Namun kegagalan ini tak menyurutkan semangatku. Beberapa kali aku sengaja menulis untuk mengupdate blog bersinarbersama.wordpress.com yang mulai usang lantaran sangat jarang dibuka akunnya.

Ternyata menyenangkan saat berhasil menyelesaikan satu tulisan dan di up load di blog. Tak peduli hanya sedikit yang berkunjung ke blog. Rasanya puas saja membuat satu karya sederhana. Suatu hari nanti juga akan ada orang yang tersesat berkunjung di blogku. Semoga mereka yang tersesat mendapatkan kebermanfaatan dari tulisan-tulisanku.

***

Keriuhan perang pendapat di media sosial membuatku jengah. Seiring kemudahan arus informasi, mungkin sudah banyak orang pintar di dunia ini. Hingga akal pikiran mereka jadikan Tuhan. Mereka dengan sengaja membutakan hati nurani. Mengaku muslim tapi malah mencela Al Qur’an dan Hadits hanya untuk memuaskan nafsu duniawi. Berbagai alasan dan dalih mereka gunakan membenarkan diri sendiri.

Saking hebatnya mereka bisa menyihir sesuatu kebaikan yang putih menjadi abu-abu atau bahkan hitam. Orang-orang yang berbuat kebaikan dihujat habis-habisan seolah mereka orang paling kotor di dunia. Palestina yang dijajah Israel dengan tidak manusiawi dianggap sebagai bangsa teroris.

Sebaliknya orang yang jelas-jelas berbuat kedzaliman mereka jadikan junjungan layaknya nabi. Penindasan-penindasan pada rakyat kecil mereka anggap sebagai sebuah prestasi. Peraturan-peraturan kebaikan seperti larangan miras serta peraturan anti pornografi mereka bredeli. Nilai-nilai Islam tidak lagi relevan dengan alasan tidak toleransi terhadap perbedaan. Serangan-serangan tak hanya dilancarkan lewat media bayaran. Namun juga perang opini di media masa. Mereka benar-benar membuatku muak.

Rasanya sangat sedih dan menyesakan dada. Aku hanya bisa menyaksikan kedzoliman-kedzoliman tersebut terus bergulir tanpa bisa melakukan sesuatu. Seolah aku tak memiliki daya untuk mencegah kemungkaran di depan mataku sendiri.

Di titik inilah aku merenung. Apa yang bisa aku lakukan untuk sekedar meneriakan isi hatiku yang tertahan. Menyalakan lilin kecil meskipun tak banyak menerangi negeri.

Hingga akhirnya aku menemukan jawaban. Aku bisa melakukan sebuah langkah dengan terus menuliskan kebaikan-kebaikan. Niat untuk menulis juga harus mulai diubah. Aku tak akan menulis hanya karena ingin terkenal dan meraup keuntungan materi duniawi. Namun aku menulis untuk terus meneriakan kebaikan. Aku akan menulis minimal lewat blog atau status sosial media.

Sejatinya menulis tak bisa disebut sebagai hal kecil. Justru tulisan-tulisan mencerahkan dapat menembus jarak dan waktu. Bukankah karya-karya orang-orang besar masih terus menerangi peradaban meskipun jasad mereka sudah lama berkalang tanah? Sebut saja Imam Syafi’I, Hasan Al Bana, Buya Hamka, dan ulama-ulama besar lainnya.

Aku akan terus menulis. Masa bodoh apakah tulisanku yang bahkan belum pantas disebut sebagai lilin kecil. Satu prinsip yang selalu aku pegang, aku hanya akan menulis kebaikan.

***

Screenshot_2016-08-24-20-15-28

Kesempatan untuk mengasah pena kembali hadir. Kala itu di grub whatsapp FLP ada yang membroadcast kesempatan menjadi penulis freelance di http://www.satujam.com tepat setelah aku dinyatakan layak mendapatkan gelar sarjana. Aku bersegera mengirim sms pada nomor HP yang tertera. Sayangnya aku harus menerima kenyataan bahwa kuota penulis yang dibutuhkan sudah penuh.

Ternyata temanku yang mengirim pesan via whatsapp jutsru diterima. Padahal kami mengirim pesan dalam waktu yang hampir bersamaan. Mungkin memang sang pemilik wap lebih cepat merespon via whatsapp dibandingkan sms.

“Yasudahlah, mungkin memang belum rezekiku disana,” aku menghibur diri sendiri.

Aku menjalani hari-hari sebagai fresh graduate sebagai pengajar les privat. Entah mengapa aku belum berminat mengajukan lamaran pekerjaan ke perusahaan pangan swasta. Berbagai kesempatan lowongan pekerjaan aku lewatkan begitu saja.

Suatu ketika temanku yang bekerja sebagai penulis freelance di http://www.tandapagar.com yang juga satu perusahaan dengan http://www.satujam.com memberikan informasi untuk mencoba menghubungi pemilik situs. Alhamdulillah aku masih bisa menjadi bagian dari perusahaan ini. Dari hari Senin hingga Sabtu aku harus menulis 4 artikel. Dari kewajiban menulis setiap hari ini aku mendapatkan banyak pelajaran dari tulisan-tulisan yang aku lahirkan.

Beberapa bulan kemudian situs ini sedang mengalami perbaikan sistem. Semua penulis freelance terpaksa harus diliburkan sampai batas waktu yang belum dapat ditentukan. Meski libur dari pekerjaan penulis freelance, semangat menulisku tidak libur.
***

Saat ini aku bekerja ikut proyek Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia sebagai fasilitator UMKM. Aku bertugas menjadi konsultan UMKM Pangan beku untuk menerapkan Good Manufacturing Practice (GMP) dan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Goal setting dari proyek ini UMKM pangan ini berhasil mendapatkan sertifikat MD dari Badan POM agar bisa bersaing dengan produk-produk impor di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Para fasilitator hanya diwajibkan mengunjungi UMKM sebanyak 5 kali dalam sebulan. Bisa dibayangkan aku masih memiliki banyak waktu luang. Banyak dari teman-temanku yang juga bekerja di perusahaan pangan swasta. Namun aku sama sekali belum berminat mengikuti jejak teman-teman.

Aku justru ingin mengunakan waktu luang untuk terus menajamkan pena. Aku semakin aktif menulis di blog. Penawaran menulis antologi dari FLP Solo Raya aku sambut. Selama beberapa bulan aku juga sudah menulis 3 naskah buku. Naskah buku pertama berupa kumpulan tulisan blog. Sedangkan 2 naskah lainnya kumpulan cerpen anak. Kesemuanya aku kirimkan ke satu penerbit buku. Sampai tulisan ini dibuat, status naskah buku tersebut masih menunggu. Tak masalah menjadi hari-hari dalam penantian. Bukankah menunggu merupakan makanan wajib bagi setiap penulis?

Sebagai penulis freelance yang benar-benar free, musuh utama yang harus dihadapi adalah kemalasan. Sekali aku terperangkap dalam kubangan kemalasan, rasanya akan sangat berat bangun dalam kubangan kemalasan. Aku harus benar-benar berjuang melawan diri sendiri. Memang benar pepatah yang mengatakan bahwa sejatinya musuh terbesar dalam kehidupan kita adalah diri kita sendiri.

Dari satu tulisan ke tulisan yang lain aku belajar. Sebuah pembelajaran dimana awalnya tidak bisa dilepaskan dari peran FLP. Dari FLP aku belajar bahwa untuk menjadi penulis besar tak cukup dengan terus membangun menara impian yang megah. Aku harus menajamkan pena dengan terus menulis. Tak peduli jika tulisan tersebut masih sangat jauh dari kata baik. Aku harus terus menulis meskipun berkali-kali kalah dalam kompetisi menulis. Aku harus terus menulis meski penolakan-penolakan media massa ataupun penerbit sering kali datang sebagai pukulan berat agar aku menyerah. Aku harus terus menulis meskipun tak ada satupun orang yang memberiku tepuk tangan apalagi pujian. Aku harus terus menulis meski blog pribadiku masih saja sepi pengunjung meski sudah berusia 2 tahun. Aku ingin terus menerangi meskipun hanya dengan lilin kecil dan api mungil yang terus diterpa angin kehidupan. Aku harus terus menggerakan jemari.

***

Besar keinginanku untuk belajar dari para senior FLP yang sudah banyak merasakan asam garam di dunia kepenulisan. Belajar untuk mengigit kuat niat kebaikan yang telah diazamkan. Ketenaran yang telah para senior bangun selama belasan tahun tak lantas membuat mereka lupa akan visi besar yang mereka usung sejak awal. Sebut saja Bunda Helvy Tiana Rosa. Beliau lebih memilih jalan sulit dalam pembuatan film ‘Ketika Mas Gagah Pergi.’ Bunda Helvy bersusah payah mengumpulkan dana patungan untuk membiayai proses produksi film. Andai saja Bunda Helvy menerima tawaran produser yang mengajukan syarat berat, pasti Bunda Helvy tak harus bekerja sekeras saat ia mempertahankan idealismenya. Beliau tak akan pernah rela jika adegan tentang pembelaan bumi palestina dihapus.

Aku harus berlajar tentang kesabaran dan ketekunan. Malu rasanya jika aku yang mengaku sebagai generasi penerus FLP langsung menyurutkan langkah hanya karena mengalami berbagai penolakan, cemoohan, dan kekalahan. Padahal sangat mungkin jika kegagalan yang aku alami hanya seujung kuku dibandingkan kegagalan-kegagalan yang pernah dialami para senior FLP. Kegigihanku mempertahankan azam untuk berjuang dengan pena masih sangat lemah.

Belajar untuk menyikapi setiap keberhasilan yang dicapai dengan bersahaja. Malu rasanya jika sedikit keberhasilan kecil yang berhasil aku dapatkan membuatku sombong. Padahal para senior FLP yang sudah menulis puluhan buku best seller dan belasan naskah film tetap hidup bersahaja. Tepuk tangan dan huru hara pujian bukanlah sesuatu yang penting bagi mereka. Karya, karya, dan karya mencerahkan lebih penting dibandingkan sekedar pujian.

Aku harus belajar dari karya-karya besar mereka. Karya-karya yang menjadi wasilah banyak orang untuk kembali pada fitrah kebaikan. Karya yang tetap segar meski zaman kehidupan sudah berganti. Karya yang masih bisa menerangi generasi di masa depan.

Selama nafas masih berhembus dan jantung masih berdetak, aku akan terus belajar dan menulis. Menulis adalah jalan perjuangan yang aku pilih. Berjuang menjadi keharusan, meskipun kemenangan tak bisa menjadi jaminan. Jika aku tak sempat menyecap kemenangan, setidaknya anak cucuku tak perlu merasakan kerasnya kehidupan.

Advertisements